Ikhtiar Bedah Digestif Laparascopy

DHF merupakan sebuah  infeksi  arbovirus akut yang termasuk dalam tubuh melewati gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini kerap menyerang anak, remaja, serta dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot serta sendi. Demam Berdarah Dengue kerap disebut juga Dengue Haemoragic Fever ( DHF ).

Dokter Bedah Digestif

Usai virus dengue masuk dalam tubuh, pasien bakal terkena keluhan serta gejala sebab viremia, semacam demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal semua badan, hiperemi pada tenggorokan, munculnya ruam serta kelainan yang barangkali muncul di system retikuloendotelial semacam pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati serta limpa. Ruam di DHF disebabkan sebab kongesti pembuluh darah dibawah kulit.

Fenomena patofisiologi pertama yang menentukan berat penyakit serta menjadi pembeda DF serta DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler sebab pelepasan zat anafilaktosin, histamin serta serotonin dan aktivasi system kalikreain yang berdampak ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berdampak berkurangnya volume plama, timbulnya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi serta renjatan didalam blog dokter Eko dapat anda baca juga.

Bedah Laparoskopi

Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler terbukti dengan ditemuinya cairan didalam rongga serosa, yakni didalam rongga peritoneum, pleura serta perikard. Renjatan hipovolemik yang dimungkinkan yang menjadi akibat kehilangan plasma, jika tidak lekas teratasi bakal terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolic serta kematian. Karena lain kematian di DHF merupakan perdarahan hebat. Perdarahan biasanya dikaitkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit serta kelainan fungsi trombosit.

Fungsi agregasi trombosit merosot barangkali diakibatkan proses imunologis jelas sudah dapat dibuktikan dengan adanya kompleks imun didalam peredaran darah. Kelainan sistem koagulasi dikarenakan antara lain oleh kerusakan hati yang berfungsi memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi. Masalah ada tidaknya DIC di DHF/ DSS, khususnya pada pasien dengan perdarahan kuat.

Bedah Digestif

WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF berdasarkan derajat penyakitnya jadi 4 golongan.

Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue :

  1. Panas 1-2 hari dibarengi dehidrasi ( karena panas, muntah, masukan kurang ) ataupun kejang-kejang.
  2. Panas 3 Hingga 5 hari dibarengi nyeri perut, pembesaran hati, uji tourniquet positif / negatif, terlihat sakit keras ( tidak ingin bermain ), Hb serta PCV meningkat.
  3. Panas dibarengi perdarahan
  4. Panas dibarengi renjatan.

Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam

Bila menunjukkan perbaikan (tensi terukur sekitar 80 mmHg serta nadi teraba dengan frekuensi tak lebih dari 120/mnt serta akral hangat) teruskan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Bila nadi serta tensi seimbang teruskan infus itu dengan total cairan dihitung menurut keperluan cairan didalam jangka waktu 24 jam dikurangi cairan yang telah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam dikurangi waktu yang digunakan utk mengatasi renjatan ).

Bila sejam sehabis penggunaan cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan  tensi masih terukur tak lebih dari 80 mmHg serta andi cepat lemah, akral dingin maka pengidap itu mendapatkan plasma ataupun plasma ekspander ( dextran L ataupun yang lain ) dengan total 10 mL/ Kg BB/ 1 jam serta bisa diulang max 30 mL/Kg BB didalam kurun waktu 24 jam. Bila keadaan umum membai diteruskan cairan RL sebanyk kebutuhan cairan sepanjang 24 jam dikurangi cairan yang telah masuk dibagi sisa waktu setelah bisa mengatasi renjatan.

Bila satu jam usai pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg BB/ 1 jam keadaan tensi turun lagi, tapi masih terukur kurang 80 mmHg serta nadi cepat lemah, akral dingin maka pengidap itu musti mendapatkan plasma ataupun plasma ekspander (dextran L ataupun lainnya) dengan total 10 Ml/Kg BB/ 1 jam. Dan bisa diulang max 30 mg/Kg BB didalam kurun waktu 24 jam.