Mencari Wisata Pecinan di Jakarta? Datang Aja ke Gang Gloria

Pagi hari ketika weekend tiba, banyak orang berencana menghabiskan masa liburan tuk pergi ke luar kota. Tak perlu jauh-jauh, ada tempat Pecinan di Jakarta yang akan membuat liburan berarti. Gang Gloria lalu Petak 9, Glodok bisa jadi salah satu pilihan Anda tuk menghabiskan hari libur. Entah bersama keluarga ataupun bersama teman-teman. Di Gang Gloria Anda dapat berwisata kuliner, baik makanan maupun minuman. Sedangkan di Petak 9, Glodok alias pasar Petak 9 Anda bisa mendapati suasana pecinan (china town) dengan suasana merah yang mendominasi disana.

Pilihan utama tuk menikmati kuliner saat Anda di Gang Gloria yakni Kopi Es Tak Kie. Tempat ini adalah salah satu rumah makan klasik, baik dari setting ataupun suasana seakan-akan kita ada di masa lalu. Salah satu faktor yang membentuknya ialah Kopi Es Tak Kie yang telah berdiri semenjak 1927. Pilihan Minuman yang disuguhkan di Kopi Es Tak Kie ialah Kopi Hitam, kopi susu, es teh tarik. Kopi Es Tak Kie letaknya ada di bagian tengah Gang Gloria. Saat Anda melihat sisi kanan banyak penjual Sek Ba di belakangnya ialah Kopi Es Tak Kie berdiri disana.

Sepanjang jalan Gang Gloria Anda bakal menemukan banyak makanan khas pecinan. Salah satunya ialah sek Ba, nasi rames, nasi tim, Mie Kangkung, tentunya beberapa camilan semacam cak we, bacang ataupun bakso goreng. Jika Anda ada di Kopi Es Tak Kie, Anda tak perlu khawatir tuk beli makan dari luar. Sebab Anda bisa beli makanan dari luar dan menyantapnya di Kopi Es Tak Kie. Usai puas menikmati kuliner di Gang Gloria dan bawa pulang sejumlah makanan tuk di rumah, saatnya menikmati pengalaman pasar Petak 9. Sebetulnya pasar Petak 9 tak jauh berbeda dengan sebagian pasar lainnya. Pasar itu terdiri dari sekian bagian. Barang yang dijual berbeda, baik sayur mayur, buah-buahan ataupun kebutuhan sehari-hari. Di bagian pinggir jalanan Petak 9 Anda akan menyaksikan kerumunan penjual serta pembeli yang melakukan transaksi jual beli semacam baju dan sekian banyak kebutuhan rumah tangga. Meskipun Tahun Baru China masih lama, namun suasana merah amat mendominasi area ini. Bahkan ada sebagian penjual yang menjajakan angpao.

Apabila Anda masuk kedalam lagi sedikit dari pasar Petak 9, Anda bakal menemukan pasar yang jual sayur mayur serta buah buahan yang dijual fresh. Tentunya Anda bakal menemukan beberapa ornamen merah ala pecinan. Kegiatan berkunjung ke Gang Gloria dan Petak 9 setingkat lebih baik dimulai dari pagi sampai siang hari. Tujuan utama disarankan Gang Gloria. Mengapa Gang Gloria jadi pilihan pertama? Sebab bila Anda kesiangan sampai di Gang Gloria, banyak makanan yang habis. Bila Anda mengunjungi tempat ini jangan luput membawa kamera digital tuk dokumentasi pribadi. Baiknya Anda memakai baju kaos dan celana pendek nyaman. Diakibatkan susahnya cari parkir, sebab tidak disediakan lapangan parkir yang sepantas standar sebaiknya naik angkutan umum maupun jasa transportasi online.

Yuk Jalan-Jalan ke Surabaya dan Madura

Liburan ke kawasan Jawa Timur, pelancong bisa lihat Jembatan Suramadu di Surabaya lalu menyeberang ke Madura. Ada banyak obyek wisata menarik di dua kota tersebut. Setelah baca-baca obyek wisata di wilayah Surabaya, akhirnya saya putuskan tuk menyeberang ke pulau Madura naik sepeda motor yang telah saya pesan. Transportasi telah didapat, cus memakai google maps selaku panduan menuju pulau Madura yang sekalipun belum pernah saya kunjungi.

Surabaya dan Madura

Rencana awal ialah menuju Gili Labak, tapi rencana tinggal rencana sebab saya tersesat di Sampang. Hari makin sore, akhirnya saya balik mencari destinasi wisata lebih dekat dari lokasi saya berada. Siapa duga Pulau Madura memiliki pesona wisata yang barangkali kalah tersohor oleh Gili Labak. Pesona pariwisata ini bernama Air Terjun Toroan yang punya keunikan. Aliran airnya langsung menuju laut amat cocok dinikmati ketika matahari terbenam.

Air terjun ini berada di Desa Ketapang Daya, Sampang, Madura. Kira-kira 100 km dari pusat Kota Surabaya alias 3 jam berkendara. Cukup sulit menemui air terjun ini sebab tak adanya papan petunjuk di daerah lokasi. Setelah tiba Desa Ketapang Daya, waktunya bersosialisasi dengan para warga setempat, pastinya dengan maksud tuk menanyakan lokasi air terjun ini. Tak disangka para warga di Madura begitu ramah, malah ingin mengantar dan menemani saya segera ke lokasi air terjun itu.

Matahari telah terbenam dan hari makin gelap. Maka saya putuskan tuk menyudahi memandangi keindahan sunset di Air Terjun Toroan lalu mencari warung makan bersama-sama penduduk setempat yang telah bersedia mengantar dan menemani. Tuntas makan si bapak segera pamit pulang, dan saya diberitahu bila ada penginapan satu-satunya di sini. Karena hari makin malam, saya pun segera menuju homestay yang dimaksud.

Yang menjadikan saya shock ialah, seluruh kamar di penginapan itu penuh. Sedikit mengumpulkan keberanian, lantas saya putuskan tuk kembali ke Kota Surabaya kala itu juga. Akses di Pulau Madura cukup sepi, apalagi ketika malam. Setelah mengganjal bahan bakar motor yang kosong sampai penuh, saya tancap gas dengan destinasi Surabaya atau cari penginapan dimanapun di jalanan itu. Setelah berkendara kira-kira 2 jam atau 75 km, sampailah di Kota Bangkalan.

Akhirnya saya mendapat penginapan di kota ini dengan tarif yang bikin saya kaget, yaitu Rp 60.000 per malam dengan akomodasi 1 tempat tidur, bathroom, TV juga kipas angin. Masih sangat murah dengan fasilitas yang diperoleh. Selalu ada hikmah setiap kejadian yang didapat. Siapa sangka ketika menginap di Bangkalan dan bercengkarama dengan resepsionis penginapan, saya diberitahu bila di Bangkalan ada tempat wisata yang cukup bagus, yakni Bukit Jaddih.

Bukit Jaddih awalnya ialah tempat penambangan kapur yang lama-kelamaan ramai dikunjungi sebab keindahannya. Cukup mudah menemui wisata ini, karena memang semua penduduk setempat telah banyak yang tahu. Cukup bayar Rp 5.000 buat parkir motor, kita bisa menikmati keeksotisan hamparan tanah kapur yang dapat dinikmati dari atas puncak bukit Jaddih. Secuil tips dari saya tuk menikmati keindahan Bukit Jaddih, datanglah ketika pagi hari sebelum pukul 10.00. Karena bila siang hari, panasnya menyengat dikarenakan tak adanya pepohonan.

Puas menikmati panorama Bukit Jaddih, saya melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Rupanya kota Surabaya dari Bangkalan sudah lumayan dekat. Cuma 45 menit sampai di Jembatan Suramadu sudut Madura yang tentu kembali berhenti tuk sekedar mengabadikan momen di jembatan penghubung antar pulau tersebut. Sambil menikmati satu cangkir kopi di tepi Jembatan Suramadu. Menjelang malam saya kembali meneruskan perjalanan ke Surabaya, dan memang sensasi kala melintasi jembatan suramadu saat terbenam ini terasa unik. Kita bisa merasakan keindahan kota Surabaya yang kian menyalakan lampu serta semburat awan senja.

Tiba di ujung Jembatan Suramadu sisi Surabaya, langit telah gelap dan jembatan pula terlihat makin cantik dengan dinyalakannya lelampuan yang jelas saja tak saya sia-siakan tuk diabadikan. Puas merasakan indahnya malam Jembatan Suramadu, saya segera menuju penginapan yang memang telah saya pesan jauh-jauh hari hingga saya meninggalkan kota Surabaya besok

Pukul 05.30 saya sudah tiba di pintu masuk Pantai Kenjeran Lama, tapi loket masih menutup karena mungkin saya terlalu pagi datangnya. Sehabis menunggu kira-kira 10 menit, ada ibu-ibu pekerja yang barusan datang dan membuka loket. Cukup bayar Rp 5.000 sebagai tiket buat masuk ke pantai ini dan dapat menikmati keindahan sunrise di Pantai Kenjeran Lama. Matahari merangkak naik dan hari pun makin siang. Saya pun balik lagi ke penginapan tuk beres-beres, mandi lalu check out serta balik lagi ke tempat peminjaman motor di Trminal Purbaya, karena emang jadwal liburan saya telah usai hari ini dan pulang ke rumah.